Sabtu, 11 Juli 2009

Resensi Desau Angin Maastrich


Judul: Desau Angin Maastricht
Penulis: DH Devita
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House
Tebal: 250 Hal.
Terbit: Februari 2009


DH Devita adalah seorang penulis yang kini berdomisili di Sengata, Kutai Timur. Ia tergabung dalam kepengurusan Forum Lingkar Pena (FLP) sejak tahun 2004, dan kepindahannya ke Sengata membawanya untuk menjadi bagian dari FLP cabang Sengata sejak tahun 2006. Buku pertamanya diterbitkan tahun 2007 (Bercermin pada Hatimu, Pro U Media) dan pada tahun yang sama menyusul buku kedua (Sebab Cinta Tak Kenal Waktu, AFRA Publishing) yang ditulis duet dengan Rien Hanafiah, penulis asal Sengata juga.

Buku Desau Angin Maastricht adalah novel pertamanya. Sebuah cerita roman khas anak muda tetapi sarat dengan hikmah yang terkandung di dalamnya. Latar cerita bertempat di Maastricht, Belanda, adalah salah satu hal yang menjadikan novel ini menarik untuk dibaca. Sebab mungkin tak banyak penulis yang menampilkan kota kecil di negeri kincir angin itu dalam tulisan mereka. Mengambil latar di luar dari jangkauan penulis adalah satu tantangan yang bisa dikatakan cukup berat, sebab membutuhkan penelitian kecil untuk menjadikannya tampak nyata di mata pembaca. Dan hal ini pula yang menjadi daya tarik yang kuat atas novel ini, mengingat tren penulisan sekarang mengarah pada literatur berbau ‘jalan-jalan’.




Arin, tokoh utama dalam buku ini, adalah seorang mahasiswi pasca sarjana yang melanjutkan studi di Universiteit Maastricht, Belanda. Ia memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan mengirimkan aplikasi beasiswa pasca sarjana ke NEC (Netherlands Education Center), dan ternyata diterima. Dina, sahabat Arin di kampus, banyak membantu Arin dalam mempersiapkan kepergiannya ke Maastricht, termasuk meminjamkan sejumlah dana yang diperlukan. Dina memahami betul keinginan Arin untuk meneruskan kuliah sekaligus mencari pengalaman baru di luar negeri. Namun yang paling terbaca dari niat tiba-tiba Arin itu adalah kejadian yang Arin alami beberapa saat sebelum ia memutuskan untuk mengirimkan aplikasi ke NEC. Yaitu peristiwa dimana Arin mengetahui yang sebenarnya perasaan Dodi, sosok lelaki yang tadinya sangat ia harapkan.

Berada di Maastricht sama dengan menyepi dan menghindarkan diri dari seorang Dodi, sekaligus menjadi momen panjang kontemplasi diri bagi Arin. Masalah yang selama ini dipendam dalam, menguak perlahan. Perjumpaannya dengan berbagai tipikal orang di Unimaas justru menjadi pembelajaran berarti bagi keterbukaan diri Arin, dan membangkitkan kesadaran akan adanya permasalahan lain yang lebih besar yang ada di sekitarnya. Maria, gadis Spanyol teman sekamar Arin, menyadarkannya untuk mensyukuri keluarga yang ia miliki selama ini. Mengenal Niema, gadis asal Maroko, membawa gairah baru yang menyadarkan Arin akan pentingnya sebuah kepedulian akan Islam. Arin menyadari bahwa persoalan apapun yang selama ini mengganggunya tak berhak membuatnya menjadi seorang yang paling menderita. Dan bersikap menghindari masalah tidak akan menyelesaikan apapun dari masalah tersebut.


Konflik percintaan dalam buku ini memang tak berakhir happy ending, seperti yang mungkin diharapkan banyak pembaca. Karena memang inti utama cerita bukanlah pada urusan cinta antara Arin dengan Dodi. Hal lain yang ingin ditonjolkan penulis adalah tentang bagaimana kita memaknai cinta, yang memang sangat tergantung pada apa yang menurut diri kita penting dalam kehidupan yang dijalani. Memantapkan hati dalam menjalani sebuah keputusan pun menjadi hal yang menyulitkan jika kita tidak menyadari betapa besar arti hidup kita bagi orang lain, atau sebaliknya.

Penulis tampaknya ingin memberi pesan bahwa ketika kita melihat dunia luar dengan lebih luas, akan tampak banyak hal yang lebih penting daripada hanya sekadar urusan cinta yang belum pasti ujung pangkalnya. Dan hal-hal tersebut di antaranya adalah persahabatan dan kepedulian akan lingkungan sekitar.

Untuk sebuah novel percintaan, sepertinya Desau Angin Maastricht tidak mampir di dunia penerbitan hanya untuk menambah deretan bacaan cengeng dan membuai perasaan saja. Walaupun ada beberapa kekurangan, seperti sinopsis cerita di sampul belakang buku yang kurang mewakili isi buku yang sebenarnya, dan beberapa hal teknis lain, secara keseluruhan buku ini sangat menarik untuk dibaca.

Sangata, Sangat Banyak Cerita


BUKU SANGATA, SANGAT BANYAK CERITA

Penulis : FLP Sangatta Kaltim
Penerbit : Indie FLP Sanggata Kaltim
Halaman : 108 halaman
Ukuran : 21 x 15 cm

Kota Sangatta merupakan Ibukota Kabupaten Kutai Timur, yang letaknya berdekatan dengan Kota Administratif Bontang. Jika Bontang terkenal dengan PT Pupuk Kaltim, maka Sangatta terkenal dengan PT Kaltim Prima Coal ( PT KPC ). Tak dipungkiri kedua kota itu sama-sama dikenal hanya karena ada perusahaan besar yang beroperasi di wilayahnya.

Sangatta, sangat identik dengan kepanjangan nama”Sangat Menderita”. Mungkin ini disebabkan pada awal berdirinya PT KPC ( sekitar akhir tahun 80an)banyak pendatang ke Sangatta, dan menemukan sangat minimnya sarana dan prasarana yang tersedia di Sangatta.

Kepanjangan nama itu tetap bergaung, karena selalu dibawa oleh orang-orang yang tinggal di Sangatta maupun orang-orang yang telah hengkang dari Sangatta. Tak pernah terdengar indah, bila orang menyebut kota ini. Menurut saya, itu merupakan suatu persepsi yang buruk yang harus digantikan dengan hal-hal yang membangkitkan semangat dan kebanggaan bagi warga Sangatta.

Pada tanggal 22 Februari 2009 merupakan Milad FLP, dimana FLP Sangatta juga merayakannya dengan peluncuran buku Sangatta, Sangat Banyak Cerita. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari anggota dan pengurus FLP cabang Sengata.

Buku tersebut merupakan tulisan yang dibuat dari sekumpulan orang-orang yang berlatar belakang suku, umur, pendidikan dan pekerjaan yang berbeda. Sehingga buku ini merupakan gambaran yang objektif tentang bagaimana sebenarnya Sangatta dimata penulisnya.

Menarik sekali ketika kita membaca judul tulisan “Lapangan Garuda” yang ditulis oleh Siti Fatimah, dimana dia telah tinggal di kota ini lebih dari 20 tahun. Perasaannya sangat miris ketika orang Sangatta banyak yang tidak mengenal lapangan tersebut. Padahal dia merupakan salah satu saksi sejarah dari lapangan Garuda.

Ketika kita memasuki wilayah Sangatta, kita akan melihat patung selamat datang yang berwarna hitam, yang dikatakan mirip ikan lele oleh Mardianto Alif . Dia mampu menceritakan asal-usul mengapa burung Enggang dijadikan maskot kota Sangatta.

Menabur Mimpi di Kota Batu Bara yang dituliskan oleh seorang guru bernama Endah Wulandari, merupakan tulisan yang menceritakan tentang keadaan Sangatta saat ini dan harapannya di masa mendatang.

Arif Wibowo menuliskan tentang mitos Sangatta yang sangat terkenal, yaitu sekali minum air Sangatta pasti akan kembali ke Sangatta. Dia telah membuktikan mitos itu, karena dia pernah hengkang dari Sangatta kemudian datang kembali ke kota ini.

Masih banyak tulisan-tulisan yang membuat kita lebih banyak tahu, bagaimana Sangatta dan hikmah-hikmah apa saja yang telah di dapatkan oleh penulis-penulis buku ini selama tinggal di Sangatta.

Tidak salah bila salah satu dari paragraph pengantar buku, Rien Hanafiah ketua Forum Lingkar Pena Cabang Sangata mengatakan, ”Fenomena sangat menderita, ternyata adalah sesuatu yang begitu menyenangkan. Hal-hal pedih bisa disikapi dengan empati luar biasa, wujud syukur pun tanpa bisa dielakkan.”

Walaupun buku ini tidak disertai foto-foto tentang kota Sanggata, karena isi buku ini adalah gambaran Sangatta yang sesungguhnya, maka buku ini layak dimiliki oleh semua kalangan yang merasa dirinya sebagai bagian dari Sangatta: maupun bagi yang pernah tinggal di Sangatta: ataupun yang tidak pernah tahu Sangatta.

Buku Sangatta, Sangat Banyak Cerita adalah buku yang pertama yang menceritakan kota Sangatta, hingga tidak ada salahnya bila kita miliki untuk dijadikan tambahan koleksi buku maupun oleh-oleh untuk teman dan kerabat yang tinggal di luar Sanggatta.

”FLP Sengata akan terus mencoba survive, karena kami merasa dimanapun kita berada, kegiatan membaca dan menulis harus terus kita galakkan, tentunya untuk mencerdaskan generasi selanjutnya. Lagi pula, dengan menulis, kita bisa menuangkan segala sesuatunya menjadi manfaat. Itulah yang mendesak FLP cabang Sengata bertahan, eksis untuk membuktikannya. Salah satu pembuktian itu adalah menerbitkan buku antologi secara indipendent.” Ujar Rien Hanafiah ketua Forum Lingkar Pena Cabang Sangata. (Kiriman FLP Sangatta)

Motivasi itu perlu, “Karena Hidup Hanya 1 Kali”

Resensi Buku: Karena Hidup Hanya 1 kali
Little things mean a lot...
Banyak hal kecil yang sesungguhnya memiliki makna
yang begitu besar
Jika kita mau sedikit lebih menyimak
Sedikit memperhatikan, melihat lebih dalam
dan sedikit saja berpikir
Ketika kita hanya memandang sesuatu dengan cara biasa
Semuanya akan tampak biasa-biasa saja
Tidak ada yang istimewa
Tidak ada yang luar biasa
Seakan memang demikianlah seharusnya...

Setiap manusia terlahir di dunia, pasti tidak lepas berhadapan dengan banyak masalah hidup, hanya orang-orang yang cerdas bisa keluar dari masalah dengan senyum ketegaran, sebaliknya ketika tidak pandai menarik hikmah dari setiap masalah, bisa jadi terpuruk dalam pandangan sempit memadang dunia. Padahal masalah dan cobaan adalah bunga kehidupan orang-orang beriman.
Lalu, sudahkah kita tepat menempatkan diri?
Sebuah paku saja akan menghadapi masalah pada tubuhnya bila tidak tepat menempatkan diri. Bila ia terletak di tanah basah, suatu saat ia akan berkarat, tidak memiliki guna, terinjak, bahkan mungkin suatu saat akan terkubur bersama karat yang menyelimutinya.
Tapi bila manusia bisa menempatkannya di tempat yang tepat, menancapkan paku pada sebuah dinding, walaupun ia berkarat, paku itu berguna bagi manusia. Sebagai penyangga, tempat gantungan, atau sebagai penyatu berbagai benda.
Maka, jangan menjadi paku yang terletak di tanah basah. Tapi jadilah paku yang dapat menyangga kehidupan manusia. Walaupun kecil, tanpa paku itu sebuah bangunan besar tidak akan pernah berdiri.
Bukankah hidup di dunia ini hanya sekali, terlalu indah untuk kita lalui dengan sia-sia, karena memang Allah menciptakan makhluknya tidak untuk sia-sia. Betapa bahagianya hidup ini, bila kita jalani dengan penuh semangat dan optimisme yang tinggi. Betapa indahnya hidup ini bila hari-hari manusia jalani dengan rasa syukur, senyum kebahagiaan dan sikap positif memandang masa depan. Betapa sejuknya bila manusia sabar dan ikhlas menghadapi setiap permasalahan, kemudian berusaha memecahkannya dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.
Karena semua yang ada di dunia ini adalah milik-Nya dan sudah pasti akan dikembalikan pada-Nya. Karena manusia hadir di dunia dengan tidak membawa apa-apa, manusia pun kembali ke pangkuan-Nya juga tanpa membawa apa-apa, kecuali nilai amal sholeh yang kita ukir selama hidup di dunia.
Karena hidup hanya 1 kali, ukir prestasi, karya dan bakti untuk bangsa ini dengan kecintaan karena-Nya. “Life is not only for bread,” hidup bukan sekedar untuk sepotong roti. Karena terlalu naïf dan mudah bila manusia hidup hanya mengejar kenikmatan materi semata, karena manusia memiliki tugas yang sangat berat, namun sayangnya tak semua manusia memahami amanah yang diberikan untuknya, sebagai sosok penebar rahmat seluruh alam.
Setidaknya ini yang bisa ditarik garis bawah, point buku KARENA HIDUP HANYA 1 KALI (KHHK) yang ditulis oleh Muthi’ Masfu’ah yang terbit bulan November 2008 dengan penerbit Rie View Jakarta.
Harapan dengan terbitnya buku KHHK ini mengajak pembacanya agar tidak statnan, mandek, atau tidak berbuat, tidak menghasilkan apa-apa, tidak menghasilkan karya, karena buku ini ditulis dengan cinta, dengan semangat berbagi oleh penulisnya, agar memberikan percikan imajinatif kepada siapa saja yang membacanya, dapat memberikan barakah dari Allah SWT hingga menjadi jalan kebaikan yang terus bertambah.
Karena api besar dimulai dari percikan kecil, semoga percikan kecil imajinasi yang berada dalam lukisan buku ini, seperti harapan penulisnya, akan memperkaya dan memperdayakan potensi kita agar lebih termotivasi, mampu meretas sejuta tantangan dan meraih prestasi tinggi yang layak dicatat dalam sejarah.
Walau, buku ini masih terkesan meloncat-loncat antara bab yang ada, mungkin lantaran terburu waktu dala menulisnya, tapi setidaknya buku ini mampu memotivasi siapa saja yang membacanya.
Akhirnya, seperti harapan penulisnya, karena zaman terus beranjak tua, bumi akan terus berputar dengan kecapatan waktu yang terus meninggalkan manusia… Big think, start small, act now! Berpikir besar, mulai dari yang kecil dan beraksi sekarang ! Karena hidup hanya 1 kali…

Sungguh... kita menjadi ada di dunia adalah takdir Allah yang terindah
Sebab menjadi yang lain tentu tidaklah mudah...

Menjadi akar
Meski berada di bawah tanah, ternyata tidaklah mudah
Karena ia rela tak terlihat,
berada tersembunyi dalam kegelapan bersama tanah
Karena ia tak pernah mengeluh,
dengan kuat cakarnya menghujam ke dalam bumi
Karena ia tak pernah bosan menyangga batang-batangnya menjulang ke langit
Karena ia tak pernah kelelahan, mengalirkan sari air ke batang-batangnya
hingga memberikan buah yang lezat
Karena ia tak pernah berhenti untuk mengajarkan hakekat
keikhlasan yang sejati
Yang tak perlu terlihat, tak perlu dipuji tapi dengan tulus melakukan tugasnya...